SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PEMERINTAH DESA TEPAS KECAMATAN GENENG KABUPATEN NGAWI

Artikel

SEJARAH DESA TEPAS

20 Desember 2023 10:38:00  Administrator  326 Kali Dibaca 

SEJARAH DESA TEPAS - 

Sejarah terbentuknya Desa Tepas diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat dan dihubungkan dengan ditemukannya petilasan sebagai cikal bakal terbentuknya nama Desa Tepas. Asal-usul Desa Tepas berawal dari kisah zaman dahulu dimana ada seorang prajurit "Telik Sandi" kerajaan yang menjalankan tugas dari Raja Mataram untuk menyelidiki Adipati Ronggo Jumeno di Madiun. Beliau adalah Ki Ageng Teposono yang dibantu oleh cantrik bernama Ki Ageng Palang. Raja berpesan kepada mereka agar nantinya membuat pesanggrahan di sebelah utaranya, yaitu pesanggrahan Ki Setro Kenongo dan Ki Kebo Kenongo.

Sampailah mereka di hutan belantara yang dipenuhi pohon mojo. Tak berapa lama dari singgahnya Ki Ageng Teposono, tempat tersebut menjadi perkampungan kecil yang gemah ripah loh jinawi dan dijuluki dengan nama kampung Tepas, yang diambil dari penggalan nama Ki Ageng Teposono. Menurut masyarakat setempat, Teposono sendiri artinya Têpo berarti tahu atau mengerti dan Sono adalah tempat atau sasana, sehingga diharapkan penghuni perkampungan tersebut tahu atau mengerti bagaimana menempatkan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari (istilah jawa mengerti empan papan).

Setelah sekian lama, Ki Ageng Teposono mengutus cantriknya untuk menjemput istri Ki Ageng Teposono yang dulu sempat ia tinggalkan. Singkat cerita pada suatu ketika, di wilayah utara Kampung Tepas ada pemuda tampan bernama Joko Satriyo yang melakukan pelarian dari kraton Maospati dan sedang bertapa di Tepas. Namun ia tidak meminta izin dan akhirnya keberadaannya memancing amarah Ki Ageng Teposono. Beliau kemudian mengutus istrinya untuk mengusir sang pertapa. Ki Ageng berpesan pada istrinya, saat ia bertemu dengan Joko Satriyo, jangan sekali-kali sampai tergoda dan terpesona.

Nyi Ageng akhirnya bertemu dengan pertapa Joko Satriyo (petilasannya bernama Satriyan, sekarang menjadi nama salah satu dusun di Desa Tepas) dan ternyata ia terkesima setelah melihat jejaka yang tampan rupanya. Ia merasa tidak tega untuk mengusir Joko Satriyo dan muncullah pikiran untuk memiliki sang pertapa.

Ki Ageng Teposono murka setelah mengetahui perselingkuhan istrinya dengan Joko Satriyo. Beliau meluapkan amarahnya dan berucap jika nanti istrinya meninggal dunia, maka makamnya selamanya akan rusak meskipun sudah berkali-kali diperbaiki. Ucapan tersebut pun terbukti, makam Nyi Ageng tetap rusak walaupun berkali-kali diperbaiki, sehingga dikenal dengan sebutan Punden Bubrah.

Makam Nyi Ageng Teposono (Punden Bubrah)

Sementara itu, pesanggrahan Ki Ageng Teposono berada di sebelah barat sungai Trinil. Ki Ageng mengatakan siapa saja yang mempunyai pikiran jahat dan merugikan wilayahnya maka terkutuklah ia dan tidak akan bisa melewati sungai Trinil. Hal ini terbukti pada zaman penjajahan dahulu, Belanda tidak bisa menjamah Desa Tepas bagian barat sungai.

Hingga saat ini, petilasan Ki Ageng Teposono masih terawat dan menjadi salah satu tempat sakral bagi masyarakat. Banyak peziarah dari luar kota yang berkunjung terutama setiap malam jumat legi untuk melakukan berbagai macal ritual. Konon kehadiran Ki Ageng selalu diiringi hembusan angin kencang dan munculnya seekor harimau loreng.

Makan Ki Ageng Teposono (Punden Teposono)

 

Apabila dalam penulisan sejarah Desa Tepas ini terdapat kekeliruan/kesalahan mohon dapat dikoreksi dan diinfokan kepada Pemerintah Desa Tepas.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Peta Lokasi Kantor


Kantor Desa
Alamat : Jl. Pahlawan, No. 3. Desa Tepas, Kecamatan Geneng
Desa : Tepas
Kecamatan : Geneng
Kabupaten : Ngawi
Kodepos : 63271
Telepon :
Email : pemerintahdesatepas@outlook.com

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:3
    Kemarin:205
    Total Pengunjung:24.321
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.215.16.238
    Browser:Tidak ditemukan